Situasi keamanan dan politik di Hadramaut memasuki fase kebuntuan yang kian mengkhawatirkan. Meski Presiden Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman atau PLC, Rashad Al-Alimi, telah secara tegas memerintahkan pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) untuk keluar dari Hadramaut dan Al-Mahra, perintah tersebut tidak diindahkan di lapangan.
Di wilayah strategis ini, terutama di Bandara Al-Rayan, justru terjadi penambahan pasukan STC. Langkah tersebut dipandang banyak pihak sebagai bentuk pembangkangan terbuka terhadap otoritas PLC yang berbasis di Aden dan didukung koalisi internasional.
Hadramaut menjadi titik sensitif karena posisinya yang relatif stabil dibanding wilayah Yaman lain. Ketidakpatuhan STC menimbulkan kekhawatiran bahwa provinsi terbesar di Yaman itu akan terseret ke pusaran konflik baru.
Kondisi ini menciptakan stalemate politik dan militer. Pemerintah pusat tidak memiliki kapasitas nyata untuk menegakkan keputusannya tanpa risiko bentrokan, sementara STC merasa memiliki legitimasi politik dan militer di wilayah selatan.
Di tengah kebuntuan ini, wacana pemisahan Yaman Selatan kembali menguat. Pandangan tersebut salah satunya disuarakan oleh jurnalis senior Arab Saudi, Abdul Rahman Al-Rashed, yang menilai pemisahan selatan sebagai isu legal dan populer.
Dalam analisisnya, Al-Rashed menyatakan bahwa Yaman Selatan memiliki kapasitas untuk menjadi negara yang sukses secara ekonomi. Menurutnya, era rezim Marxis di selatan telah lama berlalu dan tidak relevan dengan kondisi saat ini.
Ia juga menekankan bahwa persatuan Yaman bukanlah sesuatu yang memiliki akar sejarah panjang. Penyatuan pada 1990 disebut lebih sebagai proyek politik modern ketimbang refleksi realitas historis yang mengakar kuat.
Al-Rashed menggambarkan proyek persatuan, termasuk di dunia Arab, sebagai proyek romantis yang indah secara ide, tetapi kerap gagal dalam praktik. Ia menilai kenyataan di Yaman memperlihatkan keterbatasan pendekatan semacam itu.
Dalam konteks konflik, Al-Rashed mengingatkan bahaya terbesar justru datang dari potensi perang saudara baru di luar konflik melawan Houthi. Ia menilai konflik internal antarkelompok anti-Houthi bisa menghancurkan peluang masa depan Yaman.
Peringatan ini relevan dengan kondisi Hadramaut hari ini. Ketegangan antara STC dan otoritas pusat mencerminkan retaknya konsensus politik di kubu yang sama-sama menentang Houthi.
Sejak 2011, Yaman hidup dalam kekacauan politik yang berujung pada jatuhnya Sanaa ke tangan Houthi. Namun, menurut Al-Rashed, Yaman secara mengejutkan masih terhindar dari perang saudara total seperti Suriah atau Libya.
Ia menilai hal itu sebagai situasi langka, mengingat luas wilayah Yaman bahkan melampaui gabungan beberapa negara Arab. Namun tanda-tanda konflik baru kini mulai terlihat.
Di Hadramaut, pembangkangan STC bukan hanya persoalan militer, tetapi juga simbol perebutan legitimasi politik. Bandara Al-Rayan menjadi simbol nyata dari dualisme kekuasaan tersebut.
Banyak analis menilai penggunaan kekerasan untuk memaksa STC keluar hanya akan memperburuk keadaan. Bentrokan terbuka berisiko menghancurkan stabilitas Hadramaut yang selama ini relatif terjaga.
Solusi yang kerap diajukan adalah pendekatan politik berlapis. Dialog langsung antara PLC dan STC, dengan jaminan regional khususnya dari Arab Saudi, dinilai menjadi langkah paling rasional.
Pendekatan ini perlu disertai pengaturan ulang keamanan Hadramaut secara konsensus. Keterlibatan tokoh lokal, suku, dan elite Hadramaut menjadi kunci untuk mencegah eskalasi.
Selain itu, kejelasan masa depan politik selatan Yaman juga perlu dibicarakan secara terbuka. Isu pemisahan tidak lagi bisa ditekan semata dengan pendekatan militer.
Penggunaan kekerasan seharusnya menjadi opsi terakhir. Jika ditempuh tanpa solusi politik, kekerasan justru bisa mengubah Hadramaut menjadi medan konflik berkepanjangan.
Dalam konteks peringatan Al-Rashed, konflik semacam itu dapat menjadi awal perang saudara jangka panjang, bahkan jika Houthi suatu hari berhasil disingkirkan dari Sanaa.
Kebuntuan di Hadramaut hari ini menjadi ujian bagi kepemimpinan PLC dan masa depan Yaman. Apakah jalan dialog akan dipilih, atau negara ini kembali tergelincir ke lingkaran konflik baru.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar