Pemerintah Afghanistan memilih jalur yang tidak lazim dalam membangun kembali kemampuan militernya dengan mendaur ulang sistem persenjataan (alutsista) usang peninggalan era Soviet. Langkah ini muncul sebagai respons atas keterbatasan anggaran, isolasi politik, serta sulitnya akses terhadap pasar senjata internasional yang selama ini menjadi hambatan utama Kabul.
Di berbagai pangkalan dan gudang tua, masih tersisa beragam sistem lama seperti peluncur roket, artileri, dan kendaraan militer buatan Uni Soviet. Alih-alih membiarkannya berkarat atau dijual sebagai besi tua, pemerintah justru memandang aset tersebut sebagai fondasi awal untuk membangun kemampuan pertahanan secara bertahap.
Keputusan mendaur ulang ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan membangun sistem senjata dari nol. Pengembangan senjata baru membutuhkan riset panjang, uji coba mahal, dan sumber daya manusia yang belum sepenuhnya dimiliki Afghanistan. Dengan memanfaatkan platform lama, biaya penelitian yang dianggap tidak efisien dapat ditekan secara signifikan.
Pendekatan ini juga menghindari pengulangan riset untuk sistem yang secara konsep sudah terbukti di medan perang. Teknologi Soviet, meski tergolong lama, dikenal sederhana, tangguh, dan mudah dirawat. Karakter inilah yang cocok dengan kondisi Afghanistan yang masih membangun kembali struktur industrinya.
Pemerintah Afghanistan memulai proses ini dengan menghidupkan kembali unit-unit yang masih bisa diperbaiki. Peluncur roket dan artileri lama dimodifikasi, dipasang ulang di sasis truk modern atau semi-modern, sehingga tetap relevan untuk kebutuhan pertahanan saat ini.
Meski kualitasnya belum menyamai produk asli pabrikan, upaya ini dipandang realistis. Tabung peluncur, rangka mekanis, hingga komponen dasar roket dapat diproduksi secara perlahan di bengkel lokal. Fokusnya bukan kesempurnaan, melainkan fungsi dan ketersediaan.
Produksi suku cadang dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan keahlian teknisi lokal. Dari waktu ke waktu, komponen yang awalnya kasar dapat disempurnakan seiring meningkatnya pengalaman dan peralatan. Proses ini sekaligus menjadi sekolah praktis bagi generasi teknisi Afghanistan.
Salah satu pendekatan modern yang mulai diterapkan adalah pemindaian tiga dimensi terhadap sistem-sistem lama tersebut. Dengan teknologi 3D scanning, setiap komponen dapat dipetakan secara detail menjadi cetak biru digital yang tersimpan rapi.
Blueprint digital ini membuka peluang pengembangan jangka panjang. Komponen yang lemah dapat diperkuat, desain yang kurang efisien bisa diperbaiki, dan kemampuan sistem dapat ditingkatkan secara bertahap tanpa harus mengubah keseluruhan platform.
Pendekatan ini menciptakan siklus belajar yang berkelanjutan. Afghanistan tidak hanya menggunakan senjata, tetapi memahami cara kerjanya hingga ke tingkat paling dasar. Pengetahuan ini menjadi aset strategis yang nilainya jauh melampaui harga besi tua.
Kondisi geopolitik saat ini juga memaksa Afghanistan bersikap realistis. Negara tersebut belum memiliki kelonggaran politik maupun finansial untuk mengimpor senjata sesuai keinginan. Sanksi, pembatasan diplomatik, dan minimnya mitra membuat opsi impor hampir tertutup.
Dalam konteks ini, mendaur ulang sistem Soviet menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal. Persenjataan lama tidak terikat kontrak lisensi modern dan dapat dimodifikasi tanpa ketergantungan pada produsen asing.
Langkah tersebut juga memberi pesan bahwa Afghanistan berusaha mandiri dalam urusan pertahanan. Kemandirian ini penting untuk menunjukkan stabilitas internal sekaligus kemampuan bertahan tanpa bergantung penuh pada bantuan luar negeri.
Di sisi lain, kebijakan ini menciptakan lapangan kerja teknis di dalam negeri. Bengkel perbaikan, pabrik kecil, hingga pusat pemindaian teknologi menjadi tempat penyerapan tenaga kerja yang sebelumnya tidak tersentuh sektor industri.
Meski menuai kritik karena dianggap memakai teknologi kuno, pemerintah menilai efektivitas tidak selalu ditentukan oleh usia sistem. Dalam medan tertentu, sistem sederhana yang tersedia justru lebih berguna dibanding senjata modern yang mahal dan sulit dirawat.
Pendekatan ini juga memungkinkan fleksibilitas operasional. Senjata yang dirakit dan dipahami sendiri dapat diperbaiki di lapangan tanpa menunggu suku cadang impor yang mahal dan lambat datang.
Dalam jangka menengah, Afghanistan berharap sistem daur ulang ini menjadi batu loncatan. Dari sekadar memulihkan kemampuan lama, mereka menargetkan peningkatan daya hancur, akurasi, dan keandalan secara bertahap.
Pemerintah menyadari bahwa jalur ini panjang dan penuh keterbatasan. Namun dibandingkan membangun industri pertahanan dari nol, mendaur ulang dianggap sebagai jalan paling rasional dan sesuai dengan kemampuan nasional saat ini.
Pengalaman historis menunjukkan bahwa banyak negara berkembang memulai industri militernya dengan cara serupa. Memanfaatkan apa yang ada, mempelajarinya, lalu perlahan meningkatkan kualitas seiring waktu.
Dengan strategi ini, Afghanistan tidak sekadar menghidupkan kembali senjata lama, tetapi juga membangun fondasi pengetahuan dan industri yang dapat menentukan arah pertahanan negara tersebut di masa depan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar